Selasa, 25 Oktober 2011

NABI MUHAMMAD MASA KANAK-KANAK

MUHAMMAD DALAM ASUHAN

A.   Muhammad di bawah Asuhan Halimah
Kebiasaan bangsa Arab menyusukan anak-anak diserahkan anak-anaknya diserahkan kepada wanita-wanita desa di desanya agar menjadi anak yang cerdas, karena lingkungan sekitarnya dan udaranya masih segar.

Wanita Bani Sa'ad terkenal sebagai pengasuh dan penyusuan anak-anak kota. Datanglah Halimah binti Sa'diyah ke rumah Aminah, agar dapat menyusukan Muhammad. Aminah pun kemudian menyerahkan Muhammad kepada Halimah Sa'diyah, selama sebelumnya tiga hari disusukan oleh Aminah sendiri.

Kasih sayang Halimah Sa'diyah kepada Muhammad sama dengan kasih sayang yang diberikan kepada anak-anaknya sendiri, bahkan Muhammad lebih dicintai.

Untuk menghilangkan rasa rindu Aminah kepada anaknya beliau sering berkunjung ke rumah Halimah Sa'diyah. Begitu Halimah Sa'diyah setiap kali berkunjung ke Makkah tak lupa membawa Muihammad.

Selama empat tahun dalam asuhan Halimah Sa'diyah, dengan berat hati, Muhammad dikembalikan ke pangkuan ibunya di kota Makkah.

B. Muhammad di bawah asuhan ibu dan kakeknya
Setelah Halimah Sa'diyah mengembalikan Muhammad kepada ibunya, maka mulai saat itu Muhammad berada di tengah-tengah keluarga.

Ibunya langsung mendidik dan mengasuh Muhammad dengan kasih sayang.

Tatkala Muhammad berusia 6 tahun.ia dibawa oleh ibunya ke Yatsrib (Madinah) untuk berziarah ke kuburan ayahnya dan mengunjungi sanak saudaranya.

Dalam perjalanan ke Madinah itu, Ummu Aiman pembantu yang setia ikut serta. Setelah kembali dari Madinah, dalam perjalanan menuju Makkah, di sebuah desa yang bernama Abwa, tiba-tiba ibunya jatuh sakit. Kemudian mereka beristirahat beberapa hari di sana. Dengan kekuasaan Allah, akhirnya ibunya meninggal dunia dan dimakamkan disana.

Kini Muhammad telah yatim piatu. Beberapa hari kemudian, setelah ibunya dimakamkan, Ummu Aiman dan Muhammad kembali ke Makkah, sesampainya di Makkah, Ummu Aiman menceritakan peristiwa meninggalnya Aminah kepada keluarga Abdul Muthalib. Kemudian Muhammad diserahkan kepada kakeknya.

Sebagai pembantu rumah tangga yang setia, Ummu Aiman tetap mengasuh Muhammad sampai dewasa. Abdul Muthalib mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.

C. Muhammad di bawah asuhan pamannya Abu Thalib
Abdul Muthalib, kakek Muhammad adalah seorang pemimpin di kota Makkah dan di kalangan suku Quraisy.

Tetapi sayang, kakeknya tidak lama mengasuh Muhammad. Kakeknya yang mulia itu meninggal saat Muhammad berusia 8 tahun.

Selanjutnya Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib mengambil alih tanggung jawab untuk mengasuh Muhammad. Abu Thalib sangat menyayangi Muhammad seperti anaknya sendiri dan Abu Thalib juga melindungi Muhammad dari ancaman orang-orang Quraisy Jahiliyah.

Pekerjaan Abu Thalib adalah berdagang ke Syam. Ia adalah orang yang sangat disegani dan dihormati di kalangan suku Quraisy.

SIFAT-SIFAT TERPUJI NABI MUHAMMAD PADA MASA KANAK-KANAK

Berkat lindungan Allah SWT dan asuhan Halimah, Aminah ibunya, Abdul Muthalib kakeknya serta pamannya Abu Thalib dan bibinya Aminah binti Asad, tertanamlah sifat-sifat terpuji pada diri Nabi Muhammad Saw.

Sejak kecil beliau selalu giat bekerja, sabar dalam menghadapi cobaan, jujur dalam perbuatan, sopan santun dan lemah lembut dalam perkataan.

Kehidupan Nabi Muhammad penuh dengan kesederhanaan, suka memaafkan kesalahan orang, murah hati terhadap sesama kawan, tidak sombong dan tidak gila hormat.

Dalam pergaulan, Nabi Muhammad tidak pernah menyakiti orang lain, segala perbuatannya selalu terpuji tidak pernah berbuat maksiat, apalagi menyembah berhala.

Allah melindungi dan menjaga kesucian beliau sebagai manusia yang akan memikul tugas suci yang besar di dunia.

KEJADIAN LUAR BIASA

Pada suatu hari ketika Nabi Muhammad dan anak-anak Halimah sedang mengembala kambing, tiba-tiba datang dua Malaikat berbaju putih memegang Nabi Muhammad, lalu membaringkan dan membelah dada Nabi Muhammad, membuang sifat yang kotor dan menggantikan dengan sifat yang bersih. Setelah itu mereka meninggalkan Nabi Muhammad yang masih berbaring. Melihat peristiwa itu, anak-anak Halimah berlari memberi tahu ibunya.

Halimah dan suaminya datang menghampiri Nabi Muhammad, menanyakan peristiwa yang baru dialami, Nabi Muhammad menceritakan peristiwa tersebut dari awal sampai akhir pada mereka.

Setelah kejadian itu Halimah dan suaminya sangat khawatir akan keselamatan Nabi Muhammad. Oleh sebab itu maka beliau kembalikan pada ibunya, sambil menceritakan tentang kejadian yang pernah dialaminya. Setelah mendengar cerita Halimah, Aminah bertanya: "Apa kalian khawatir kalau-kalau diganggu setan?" Halimah menjawab: "Ya, benar". Aminah bertanya lagi: "Tidak demi Allah, setan tidak akan mengganggunya. Anak ini kelak akan menjadi manusia besar! Maukah kalian mendengar ceritanya?" Halimah menjawab: "Ya". Aminah segera melanjutkan ceritanya: "Ketahuilah, ketika ia masih di dalam kandunganku, aku melihat cahaya terang benderang keluar dari diriku menyinari istana-istana Bushra di Negeri Syam. Demi Allah selama aku hamil aku tidak merasa sangat berat. Tidak ada wanita hamil yang merasa seringan dan semudah yang kurasakan. Ketika lahir ia meletakkan telapak tangannya ke tanah, sedang kepalanya menengadah ke langit".

(Sumber: Buku Mata Pelajaran SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM -Madrasah Diniyah Ula- Untuk Kelas 1, Zainuddin, Spdi, dkk, Hal.36-40)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar