Rabu, 26 Oktober 2011

USAHA-USAHA NABI MUHAMMAD DALAM MEMBINA EKONOMI

Mengembala

Sewaktu Nabi Muhammad masih anak-anak, beliau rajin bekerja dan lebih menyukai pekerjaan mengembala kambing, karena dengan pekerjaan itu beliau dapat bergaul langsung dengan anak-anak yang tergolong miskin yang tidak bisa menyombongkan diri seperti orang-orang Jahiliyah yang membangga-banggakan kehormatan, kekayaan dan sebagainya.

Ketika beliau mengembala kambing, Allah memberi bimbingan dan latihan jiwa kepada beliau untuk bersabar, tabah, kasih sayang dan menjaga serta menolong makhluk yang lemah. Tidaklah mengherankan kalau mengembala kambing merupakan salah satu bentuk pendidikan yang diberikan Allah kepada Para Nabi agar mereka dengan rasa kasih sayang dan cinta kasih dapat memimpin umat manusia.

Di antara para Nabi yang pernah mengembala kambing ialah Nabi Musa, Nabi Daud dan lain-lain.

Pada waktu Nabi Muhammad berusia 12 tahun Abu Thalib mengajak beliau ke negeri Syam untuk berdagang. Pada saat itu Abu Thalib sedang bersiap-siap akan pergi ke Syam, Nabi Muhammad memegang baju Abu Thalib seolah-olah ia ingin diajak. Abu Thalib merasa kasihan dan tidak tega meninggalkannya di Makkah.

Berangkatlah Abu Thalib dan Nabi Muhammad serta rombongan para pedagang lainnya, ketika para pedagang sampai di kota Bushra, suatu daerah perbatasan antara negeri Syam dan Jazirah Arab, pendeta Nasrani menghampiri rombongan tersebut lalu memperhatikan Nabi Muhammad.

Setelah mendapatkan tanda-tanda kenabian pada wajah Nabi Muhammad, seperti tercantum dalam Kitab Taurat dan Injil, pendeta Bahira menasehatkan kepada Abu Thalib agar segera kembali ke kota Makkah, demi keselamatan Nabi Muhammad dari gangguan dan pembunuhan orang Yahudi, dan agar menjaga dengan baik, karena kelak ia akan menjadi seorang Rasul. Setelah mendengar nasehat pendeta Bahira dan telah menyelesaikan urusan dan dagangannya di negeri Syam, Abu Thalib segera kembali ke kota Makkah.

Setelah terjadi peristiwa tersebut, Abu Thalib menghentikan kegiatannya untuk berdagang ke luar kota Makkah. Ia merasa cukup untuk dengan usahanya di negeri sendiri, kota Makkah. Ia tidak mau lagi berpergian jauh, ia tinggal di rumah mengasuh anak-anaknya.

Keberhasilan Dalam Usaha

Pada waktu usia Abu Thalib semakin lanjut beliau selalu memikirkan anak-anaknya terutama keponakannya Nabi Muhammad, agar mempunyai mata pencaharian yang tetap dan mempunyai sumber kehidupan yang pasti untuk bekal hidupnya serta mengurus rumah tangganya kelak.

Dalam pikiran Abu Thalib terlintas sebaiknya Nabi Muhammad itu berdagang sebagaimana yang dikerjakan bangsa Quraisy dan biasa juga dilakukan oleh nenek moyangnya.

Pada waktu itu kota Makkah ada seorang saudagar besar, terkenal kekayaannya, kebangsawanannya, kemuliaan budi pekertinya dan keluasan pandangan pikirannya namanya Khadijah binti Khuwalid. Di antara penduduk kota Makkah dan sekitarnya, baik lelaki dan perempuan tidak sedikit yang menjualkan barang dagangannya ke luar kota Makkah, seperti ke negeri Syam, ke Iraq dan lainnya.

Pada suatu hari Abu Thalib menemui Khadijah lalu menceritakan maksud dan tujuannya. Dengan singkat Khadijah pun menyetujuinya.

Setelah malam yang telah ditentukan berangkatlah Nabi Muhammad serta rombongan pedagang lainnya dari kaum Quraisy menuju negeri Syam. Dalam berdagang itu Nabi Muhammad ditemani oleh pelayan Khadijah sendiri, Maisarah namanya. Maisarah adalah seorang pelayan yang setia dan sangat dipercaya. Dalam perjalanan itu selalu mengawasi gerak-gerik dan cara berdagang Nabi Muhammad.

Di sepanjang jalan sejak dari Makkah sampai Syam sifat dan gerak-gerik serta cara berdagang Nabi lebih jauh berlaianan dibandingkan para pedagang lainnya. Cara berdagang beliau berupa harga pokok dari Khadijah beliau sebutkan dengan sebenarnya kepada para pemebeli, tentang keuntungan beliau serahkan juga kepada para pembeli. Oleh sebab itu, para saudagar negeri Syam senang sekali membeli barang dagangan beliau, karena mereka masing-masing tidak akan tertipu dalam perkara harga barang yang akan dibelinya.

Tentang keuntungan beliau, para pembeli telah memperkirakan, mereka selalu memberikan keuntungan cukup untuk menutup biaya perjalanan antara Makkah dan Syam pulang pergi.

Melihat tindakan Muhammad dalam menjual dagangannya, Maisarah sangat tercengang, tetapi ia tidak berani menegur dan menanyakannya. Dengan sebab itu maka barang dagangan Nabi Muhammad habis terjual dengan waktu yang sangat singkat serta mendapat keuntungan yang luar biasa.

 (Sumber: Buku Mata Pelajaran SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM -Madrasah Diniyah Ula- Untuk Kelas 1, Zainuddin, Spdi, dkk, Hal.44-46).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar