Minggu, 20 November 2011

MEMBINA MASYARAKAT ISLAM DI MAKKAH

CARA PEMBINAAN:

1.       BERDAKWAH DI MUKA UMUM

Setelah turun wahyu kedua, secara berturut-turut Nabi Muhammad Saw menerima wahyu berikutnya. Allah SWT memerintahkan agar Nabi Muhammad Saw menyeru kepada umat secara terang-terangan.

Dengan perintah Allah SWT tersebut, Nabi Muhammad langsung melakukan dakwah di depan orang banyak. Dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad tersebut berisi ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan dengan suara yang lantang dan tegas, sehingga dapat menawan hati yang mendengarnya.

Dakwah secara terang-terangan ini dimaksudkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah agar masyarakat Makkah mengetahui kebenaran yang datang dari Allah SWT. Dengan demikian masyarakat Makkah akan berpikir dan tertarik untuk memeluk agama Islam.

2.       KHUTBAH NABI MUHAMMAD DI BUKIT SHAFA

Pada suatu ketika, Nabi Muhammad Saw mengumpulkan masyarakat Makkah di bukit Shafa. Setelah masyarakat berkumpul di bukit Shafa, Nabi Muhammad kemudian berpidato di hadapan mereka. Nabi Muhammad menyerukan agar masyarakat Makkah menyembah Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah serta beliau menyerukan agar masyarakat Makkah tidak lagi menyembah berhala-berhala.

Di antara masyarakat Makkah yang mendengar pidato Nabi Muhammad tersebut ada yang langsung memeluk agama Islam. Namun demikian, sebagian dari mereka menolak ajaran Nabi Muhammad Saw tersebut, terutama yang bernama Abu Lahab. Setelah mendengar pidato Nabi Muhammad di bukit Shafa, Abu Lahab merasa sangat tidak senang dan langsung marah-marah di hadapan Nabi.

Abu Lahab menghina dan mencela Nabi Muhammad Saw. Dalam keadaan marah-marah Abu Lahab berkata : “hai Muhammad! hanya untuk itu engkau panggil kami kemari?, celakalah engkau”

Setelah beberapa lama Abu Lahab menghina dan mencela Nabi Muhammad Saw, kemudian turunlah wahyu dari Allah SWT. Wahyu Allah yang turun tersebut adalah surat Al-Lahab. Surat tersebut berisi kutukan Allah kepada Abu Lahab dan istrinya. Allah mengatakan bahwa tempat mereka adalah di neraka.

3.       NABI MUHAMMAD MENYERU KEPADA KELUARGANYA MASUK ISLAM

Ajaran Islam yang datangnya dari Allah tersebut oleh Nabi Muhammad disiarkan tanpa henti-hentinya kepada masyarakat di Makkah dan juga Nabi Muhammad mengadakan pertemuan dengan keluarganya, sambil mengajak mereka agar memeluk agama Islam.

Kadang-kadang Nabi Muhammad menyampaikan kabar yang menakutkan kepada mereka, yaitu tentang siksaan Allah di api neraka bagi orang yang mendurhakai agama Allah. Dalam pertemuan tersebut hadir pula Abu Lahab yang senantiasa membenci dan mencela ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Mendengar ucapan dan seruan Nabi tersebut, Abu Lahab sangat murka dan mengatakan kepada keluarganya agar Nabi Muhammad lebih baik dipenjarakan saja, karena menurutnya, Nabi Muhammad telah menghina dan mencela ajaran nenek moyang mereka.

Dalam pertemuan tersebut berbicara pula saudara perempuan Abu Lahab yang bernama Saifah binti Abdul Muthalib, untuk membela Nabi Muhammad Saw. Mendengar dan melihat pembelaan dari saudara perempuannya tersebut, Abu Lahab semakin marah dan membenci Nabi Muhammad. Abu Lahab bahkan berkata ia akan menyiksa Nabi Muhammad.

Tiba-tiba dalam pertemuan tersebut Abu nThalib berkata dengan lantang bahwa ia akan tetap melindungi Nabi Muhammad Saw.

Mendengar ucapan Abu Thalib tersebut, Abu Lahab sangat ketakutan dan akhirnya pertemuan tersebut bubar. Abu Lahab tidak jadi melaksanakan niatnya untuk memenjarakan Nabi Muhammad Saw.


REAKSI KAUM KAFIR

Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya selama di Makkah baik secara sembunyi-sembunyi  maupun secara terang-terangan, hasilnya makin hari makin bertambah, baik dari mgolongan bangsawan, hartawan, orang-orang desa dan ada juga golomgan hamba sahaya.

Sebab itulah mulailah orang-orang kafir Quraisy timbul reraksi untuk menghalangi dan merintangi dakwah Nabi.

Bentuk rintangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka Kafir Quraisy itu, antara lain:
1.       Menyebarkan isyu, menjelek-jelekkan dan memojokkan Nabi Muhammad.
2.       membikin propaganda untuk menjauhi Nabi.
3.       Mendatangi dan mengancam Abu Thalib paman Nabi yang selalu melindunginya.

Untuk merintangi jalannya dakwah Nabi Muhammad. abu Lahab menghasut laki-laki bangsa Quraisy, Ummu Jamil menghasut orang-orang perempuan bangsa Quraisy dan Abu Jahal menghasut pemuda-pemuda bangsa Quraisy dan pemuda-pemuda bangsa Arab lainnya.

Ketiga orang ini, bekerja sendiri-sendiri, dimana-mana tiap hari dan tiap malam sibuk masuk kampong keluar kampong. Bentuk hasutan itu dengan menjelek-jelekkan Nabi Muhammad Saw, seperti : “Muhammad itu jahat. Muhammad itu adalah orang yang sudah miring otaknya”.

Pada waktu Nabi Muhammad sedang mengerjakan shalat di Masjidil Haram, Uqbah bin Mu’ith melempari dengan tahi unta, kepala Rasulullah yang penuh dengan tahi unta itu lalu dibersihkan oleh anaknya Siti Fatimah. Di lain waktu Uqbah bin Mu’ith ini pernah mencekik Nabi Muhammad dengan kain sewaktu Nabi sedang shalat di Hijir Ismail.

Penganiayaan yang dilakukan para pemuka Quraisy terhadap NAbi Muhammad, makin lama makin kejam. Pada suatu hari Nabi Muhammad pernah dikerebuti dan dipukuli, ditarik kesana kemari dijadikan seperti mainan. Bahkan ada di antara mereka yang menarik rambut dan jenggot Nabi sampai tercabut karena dari kerasnya tarikan itu.

Kejadian itu diketahui oleh sahabat Abu Bakar, lalu ia lari ke Masjid untuk menolong beliau. Sesampainya di masjid dilihatnya diri Nabi seddang dikerebuti dan dibuat seperti mainan. Oleh karena itu maka Abu Bakar berteriak: “Celakalah kamu semua! Apakah kamu hendak membunuh seorang laki-laki yang berkata : “Tuhanku hanyalah Allah”, padahal sesungguhnya ia datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti dari Tuhanmu?”.

Mendengar teriakan itu, lalu mereka mengerubuti dan memukuli Abu Bakar serta menarik rambut dan jenggotnya.

Dalam hal ini sahabat Abu Bakar tidak bisa melawan, ia berdiri di belakang Nabi sambil mencucurkan air matanya dan mengulangi teriakan seperti tadi.

Lalu Nabi Muhammad berkata: “Biarkanlah mereka hai Abu Bakar! Demi Dzat yang menguasai diriku dengan kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku diutus untuk menyembelih mereka itu nanti”.

Setelah mereka mendengar suara Nabi, mereka melepaskan beliau lalu bersama-sama bubar.

Usaha lainnya dari pemuka-pemuka Quraisy dalam rangka menghalangi dakwah Anbi yaitu mendatangi Abu Thalib. Abu Thalib yang mengasuh dan membesarkan Nabi sejak kecil, selalu memberikan perlindungan kepada Nabi dari tekanan kaum kafir Quraisy.

Pada suatu hari datanglah Abu Jahal, Abu Sufyan, Abu Lahab dan lainnya kepada Abu Thalib, mereka berkata: “Hai Abu Thalib, kamu sudah tua, harus menjaga dirimu, jangan membela Muhammad untuk terus berdakwah. Kalau hal itu akan dilakukan terus, maka keluarga kita bisa pecah dan binasa”.

Selanjutnya pada suatu hari datang lagi pimpinan kaum Quraisy yang lain membawa seorang laki-laki yang tampan dan rupawan bernama Amrah bin Al-Walid, yang usianya sebaya dengan Nabi Muhammad, lalu mereka berkata: “Hai Abu Thalib, Muhammad saya tukar dengan orang ini, peliharalah orang ini dan serahkan Muhammad kepadaku untuk aku bunuh apabila menolak kamu berdua saya bunuh”.

Mendengar ancaman dan tekanan itu Abu Thalib menjawab dengan lantang: “Hai orang kasar, silahkan, berbuatlah sekehendak hatimu, aku tidak takut”.

Pada satu waktu Abu Thalib mengundang keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, mereka diminta supaya ikut menjaga Nabi Muhammad dari penganiayaan kaum kafir Quraisy.

Untuk penempaan keimanan dan aqidah, Nabi Muhammad menggunakan tempat di rumah Arqam nin Abil Arqam Al-Makhzurni. Dalam membina para pengikutnya Nabi langsung memimpinnya baik dengan cara lisan maupun dengan perbuatan. Dan kalau ada yang tidak mengerti langsung bertanya kepada Nabi. sehingga terjalin hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Di tempat itu juga para pengikutnya bisa terus menerus melihat dan mencontohkan serta mengikuti keteladanan Rasul dari dekat. Rasulullah tidak henti-hentinya mengajar dan mendidik para pengikutnya, tiap hari datang dari rumahnya ke tempat tersebut.

Di tempat tersebut Nabi Muhammad berkumpul untuk menjalin ukhuwah dan mahabbah sesama kaum muslimin dalam segala urusan kehidupan duniawi dan ukhrawi. Di tempat itu pula mereka bertemu tiap hari dalam satu barisan di hadapan Allah bersama-sama berdiri, rukuk dan sujud dengan satu tujuan yaitu beribadah kepada-Nya.


(Sumber: Mata Pelajaran SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM –Madrasah Diniyah Ula- Untuk Kelas 2, Penerbit: Friska Agung Insani, Jakarta, Hal. 2-8).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar